
SAYA mengenal kawan saya yang dua ini Dony Widyo dan Nurkhaerudin yang akrab dipanggil Jaud pada watu saya pindah ke Radar Pekalongan. Dua orang ini kerap dipanggil duo tambun. Dua-duanya emang memiliki perkembangan tubuh yang cukup pesat ke samping dan bukannya ke atas. Yang satu agak tinggian, yang satunya agak pendekan dikit. Tapi yang jelas dua-duanya lumayan ganteng dan memiliki wajah 'imut-imut' jika dilihat dari kaca mikroskop.
Mereka berdua adalah duo tambun yang cukup setia. Hampir di setiap kesempatan selalu menyempatkan diri duduk berdua. Apakah sedang rapat redaksi, ngedit berita, atau sekadar ngopi di warung Pak Roni (bukan Rony Super Lay Out yang agak kampret lho). Tapi perjalanan mengatakan lain, dua sejoli yang cukup mesra tersebut harus dipisahkan oleh keadaan. Jaud harus meninggalkan Dony untuk selama-lamanya, dia pindah Suara Merdeka. Hati Dony bergetar tatkala pasangannya tega meninggalkan dirinya. Padahal janji setia, sumpah sampai mati sudah diikrarkan.
Kini Dony menyendiri tatkala ditemani keyboard komputer. Dulu suara tak.. tik.. tuk tuts komputer serasa nada-nada indah yang didendangkan oleh musisi handal. Kini suara itu hanya mirip ketukan pintu yang tak memiliki arti. Konon Jaud pun sebenarnya frustrasi sama Dony karena sampai kini belum menemukan pasangan yang pas. Dony lebih sering melamun, tidak seceria dulu ketika Jaud slalu di sampingnya.
"Tega nian kau Jaud," tutur Dony suatu hari komat-kamit.
Akhir cerita dua-duanya frustrasi berat. Oh duo tambun, ku harap engkau bisa rujuk kembali di arena jumpa pers. (he.. he.. he.. he.)
PEMBESAR
BalasHapusSebagai keturunan pembesar, kita harus bersyukur dengan bobot yang diberikan tuhan.
BalasHapusYakinlah bahwa tambahan daging yang menempel di lipatan tubuh itu berguna saat hendak tidur...(buat bantal :)) hehehe
perceraian memang menyakitkan......
BalasHapustapi saya yakin Tuhan punya skenario sendiri untuk kalian berdua..... turut bersedih kawan.... semoga bisa menemukan pasangan hidup lagi yang baru.......... (sambil nangis) hehehehe