Rabu, 12 November 2008

Qey-Chon, Wajah Sangar, Hati Lembut















LAPAR ya? Makan kok sendirian aja sih. Sampai-sampai gak tengok kanan, tengok kiri. Oa ya, perkenalkan nama lengkapnya Syamsu Arif Manggala, tapi orang lebih mengenal dia dengan panggilan Q-Con, atau Qey Chon. Entah cara menulisnya bagaimana karena tidak tertulis di akte secara jelas. Tapi orang-orang protes kalau memanggilnya Arif. Wah, belum arif tuh dia, Kalau Q-Chon ya pas.

Anda tahu dia berasal dari mana? Jawa Timur, ya Jawa Timur. Tepatnya Malang, kota apel. Gak heran kalau gayanya agak berbeda dengan Pekalongan. Cenderung trengginas, cepat menangkap peluang termasuk order-order iklan. Tidak heran kalau melihat prosepek matanya menatap dengan tajam bak elang mencari ikan di danau. Sekalinya menangkap, langsung kena.

Dari penampilannya orang-orang suka terjebak dan salah mengartikan. Wajahnya berjambang tatkala dipelihara. Bahkan dulu jenggotnya bisa tumbuh sampai 10 centi meter. Konon ingin meniru jejak Pepi teman Tukul di acara EMPAT MATA (alm., RIP). Tapi dia berkelit ketika dibilang mirip Pepi. "Pepi yang mirip saya. Lagian Pepi kan gendut, saya kan berbadan proporsional. Lihat saja dari ujung rambut sampai ujung kaki," tuturnya sambil senyum-senyum syok ganteng. (bersambung)

Doni dan Jaud, Duo Tambun yang Romantis
















SAYA mengenal kawan saya yang dua ini Dony Widyo dan Nurkhaerudin yang akrab dipanggil Jaud pada watu saya pindah ke Radar Pekalongan. Dua orang ini kerap dipanggil duo tambun. Dua-duanya emang memiliki perkembangan tubuh yang cukup pesat ke samping dan bukannya ke atas. Yang satu agak tinggian, yang satunya agak pendekan dikit. Tapi yang jelas dua-duanya lumayan ganteng dan memiliki wajah 'imut-imut' jika dilihat dari kaca mikroskop.

Mereka berdua adalah duo tambun yang cukup setia. Hampir di setiap kesempatan selalu menyempatkan diri duduk berdua. Apakah sedang rapat redaksi, ngedit berita, atau sekadar ngopi di warung Pak Roni (bukan Rony Super Lay Out yang agak kampret lho). Tapi perjalanan mengatakan lain, dua sejoli yang cukup mesra tersebut harus dipisahkan oleh keadaan. Jaud harus meninggalkan Dony untuk selama-lamanya, dia pindah Suara Merdeka. Hati Dony bergetar tatkala pasangannya tega meninggalkan dirinya. Padahal janji setia, sumpah sampai mati sudah diikrarkan.

Kini Dony menyendiri tatkala ditemani keyboard komputer. Dulu suara tak.. tik.. tuk tuts komputer serasa nada-nada indah yang didendangkan oleh musisi handal. Kini suara itu hanya mirip ketukan pintu yang tak memiliki arti. Konon Jaud pun sebenarnya frustrasi sama Dony karena sampai kini belum menemukan pasangan yang pas. Dony lebih sering melamun, tidak seceria dulu ketika Jaud slalu di sampingnya.
"Tega nian kau Jaud," tutur Dony suatu hari komat-kamit.

Akhir cerita dua-duanya frustrasi berat. Oh duo tambun, ku harap engkau bisa rujuk kembali di arena jumpa pers. (he.. he.. he.. he.)